Awal Desember dibasahi oleh tetesan air hujan dan airmata Daria Trisna butiran bening mengalir dari pelupuk mata dibalik tirai mata terlihat rasa duka yang ingin dihempaskan dari lubuk hatinya. Pipi merona itu kini telah basah oleh tetesan air yang tersimpan dalam batinnya. Delapan tahun penantiannya terhadap Deva kini harus kandas dengan kenyataan yang terjadi dalam hidupnya, perceraian orang tuanya telah menorehkan luka dalam hatinya kehidupan ibunya kini hanya diliputi oleh rasa dendam terhadap ayahnya sehingga Daria harus hidup dengan kekosongan dalam batinnya tak ada lagi kasih dari ibunya, tiada lagi ada canda dengan ayahnya. Semua dapat disimpannya selama 8 tahun dalam hidupnya tak ada satu tetespun airmata yang keluar saat perceraian orangtuanya disahkan. Tapi kini, disaat kenyataan pahit itu datang ia tak mampu lagi membendung air mata dari hidupnya. Sejak kedua orangtuanya bercerai hanya Deva tempatnya berteduh disaat hujan airmata yang selalu dibendungnya, disaat badai amarah menerpa batinnya hanya Deva yang selalu ada untuknya. Hanya ada dua laki-laki yang sangat berharga dalam hidupnya yaitu Ayahnya dan Deva, ia telah kehilangan Ayahnya karena pesona wanita yang tak memiliki hati nurani. Tapi , haruskah kini ia kehilangan Deva karena pesona kakak tirinya sendiri. Kebodohannya selama ini berharap suatu hari nanti Deva akan datang untuk melamarnya tanpa ia menyadari bahwa hanya Ratu yang selama ini diinginkan Deva bukan dirinya.
“ Ria...... cepat turun ada yang ingin ibu bicarakan dengan kamu.” Teriak ibunya.
Daria segera menghapus airmatanya dan menaburkan sedikit powder diatas wajahnya untuk menutupi sisa-sisa airmata, sejak dulu ibunya selalu bersikap keras terhadap dirinya terutama sejak ia memutuskan untuk menjadi sekretaris tentu saja hal itu tidak aneh karena hal yang paling dibenci ibunya selama ini adalah seorang sekretaris.
“ Ada apa bu?” tanya Daria. “Ibu ingin meminta kamu untuk memilihkan menu yang akan disajikan pada acara pernikahan kakakmu Ri.” Sahut ibu. “Yang menikahkan mereka untuk apa aku yang harus memilihnya, aku sedang sibuk bu jadi aku mohon untuk tidak melimpahkan tugas ini kepadaku.” “Kesibukan apa sih yang dilakukan oleh seorang sekretaris, kamu tahukan kakakmu sangat sibuk dengan prakteknya jadi ia tidak bisa mengurus pernikahan seluruhnya.” Ucap ibunya dengan sinis. “Terserah tapi perlu ibu ketahui tidak semua sekretaris didunia ini sama seperti apa yang ada dipemikiran ibu, tolong jangan memusuhi aku karena aku melakukan hal yang tidak ibu sukai biarkan aku memilih jalan hidupku sendiri. Aku tahu ibu lebih bangga dengan Ratu walupun dia bukan anak kandung ibu sendiri karena ia seoarang dokter karena ia selalu mengikuti keinginan ibu.” Sahut Daria dengan menahan sesak dalam batinnya. “Ibu tidak pernah membedakan antara kalian berdua itu semua terjadi karena sikap kamu sendiri, sikap egois dan arogan yang diwarisi oleh ayahmu”
Daria meninggalkan ibunya dengan tumpukan rasa pedih dihatinya, Ayahnya telah meninggalkan ibunya tapi mengapa selalu ia yang disalahkan. “Bukan hanya Ibu yang menderita karena kepergian Ayah tetapi aku juga menderita. Aku selalu mencoba ikhlas untuk menerima semua ini tetapi kenapa ibu lebih mementingkan dendam ibu terhadap Ayah sehingga aku harus menjadi korbannya. Aku juga ingin ibu manjakan seperti Ratu tetapi mengapa setelah melihat wajahku seolah ibu ingin melempar aku pergi dari kehidupannya. Kesalahan Ayah mengapa harus aku yang menaggungnya.” Untaian kata-kata yang hanya tersimpan dalam hatinya, kata-kata yang selalu terngiang ditelinganya disaat malam menyelimuti hidupnya yang membawanya dalam tidur yang tenang. Hanya dalam tidur ia merasakan ketenangan dalam hidupnya. Sinar surya di ufuk timur kini telah hadir menghangatkan bumi menggantikan bintang- bintang yang berkerlipan disaat malam. Daria terbangun dari tidurnya dan melanjutkan aktivitasnya mandi, sarapan, dan langsung pergi ke kantor. Hari ini seperti biasa ia hanya sarapan sendiri di dalam kamarnya karena berhadapan dengan ibu, kakak tiri, dan Ayah tirinya hanya membuatnya semakin sakit. Ia sudah merasa bahagia ibunya masih mau membawanya sehingga ia tidak terlantar karena hal itulah ia tak ingin mengganggu ibunya yang telah berbahagia dengan keluarga barunya.
“Selamat pagi Ria, hari ini ada kejutan baru buat kamu Ri.” Sapa Dinda teman kantornya yang selalu setia menemaninya. “Kabar apa? Mau naik gaji ya ....” sahutnya dengan antusias.” Uh ...Dasar Ri kamu itu yang dipikirin uang terus. Bukan itu Ri kabar ini lebih membahagiakan dari sekedar naik gaji.” “Terus kabar apa jangan buat penasaran dong?” Ria bertanya sambil membereskan kertas-kertas yang ada diatas mejanya. Meja Dinda bersebelahan dengan meja Ria tak heran jika mereka sering sekali mengobrol di saat- saat kosong seperti pagi ini baru beberapa pegawai yang tiba dikantor maklum ini hari jumat jadi virus malas datang pagi sudah pada tahap kritis. “Ok, aku kasih tahu. Pak Gunawan pindah tugas ke Surabaya jadi yang menggantikan beliau Surya adiwijaya. Ouh kamu beruntung banget Ria punya atasan tampan, cerdas, masih muda lagi.” Ucapan yang keluar dari bibir Dinda membuat Ria tersedak air teh yang baru saja diminumnya tumpah membasahi meja kerjanya.”Aduh untung berkas-berkas penting sudah aku pindahkan kalau bisa mati aku. Kamu aneh Din kabar itu sama sekali tidak penting buat aku siapapun yang menjadi atasan aku tak ada bedanya buat aku. Tugas aku tetap gaji aku juga tetap jadi semuanya sama aja buat aku.” Celoteh Daria yang membuat Dinda menjadi gemas. “Terserah kamu deh Ri. Aku tahu yang penting buat kamu kan Cuma Deva. Eh ...tapi aku lihat akhir-akhir ini dia jarang jemput kamu. Hmmm lagi berantem ya..” Pertanyaan Dinda membuat wajah Ria kembali terlihat mendung, polesan lipstik dan sentuhan blush on tak mampu menutupi rasa duka yang terpancar dari wajahnya.”Ria, maaf aku Cuma bercanda jangan sedih dong, kamu kenapa kalau ada masalah cerita sama aku Ri. Kamu masih mengaggap aku sahabat kamu kan?” “Ya, nanti jam makan siang aku cerita semuanya sama kamu. Sekarang Cuma kamu Din tempat aku untuk cerita.” “Ria, jangan sambil sedih gitu dong bicaranya. Ok aku tunggu ya ceritanya.”
Sepuluh menit kemudian Daria dipanggil oleh Pak Robi ia diperkenalkan dengan atasan barunya sedikit rasa takut menyelimuti hatinya. “ Ya Tuhan, kenapa harus dia yang menggantikan Pak Gunawan melihat wajahnya membuat aku teringat kembali dengan Deva. Wajah mereka berdua hampir mirip hanya saja wajah Deva terlihat ramah dan bersahabat sedangkan dia terlihat begitu angkuh. Mungkin dia bersikap angkuh dengan aku karena dulu aku selalu menguasai Deva aku sangat marah kalau melihat Deva bermain dengan Surya. Aku tak ingin Deva sibuk dengan saudaranya sehingga melupakan aku. Jadi tak heran jika sampai saat ini aku dan Surya tak pernah berhubungan baik karena kita berdua selalu memperebutkan Deva. Tapi, ironisnya kini justru Ratu yang akan menikah dengan Deva, impian aku harus aku kubur dalam-dalam agar tak menjadi luka yang selalu membayangi hidupku. Aku tak ingin seperti ibu, aku mampu hidup dalam kesendirianku” keluhnya dalam hati entah kata-kata apa yang diucapkan Pak Robi saat memperkenalkan dirinya dengan Surya. “Baik, Pak Robi terima kasih atas penjelasan yang telah anda berikan” ucap Surya. “suaranya begitu dingin dan ekspresi wajahnya juga sangat angkuh” simpan Daria dalam ahti. “Ya, baik saya mohon undur diri Pak surya” “Ya, silahkan Pak.” Sahut surya. Pak Robi meninggalkan ruangan kini hanya ada Dia dan Surya dalam ruangan itu, rasa gemetar dalam hatinya ditahannya begitu kuat ia tak ingin terlihat lemah di depan saingan masa kecilnya ini. “Aku harap kau dan aku dapat bekerja sama dengan baik.” Ucap Surya. “Ya, aku juga berharap seperti itu. Jika sudah tak ada lagi yang ingin dibicarakan aku ingin ijin untuk keluar.” “Ya, silahkan” sahutnya dengan singkat.
Usai makan siang Daria merasakan sedikit kelegaan dalam hatinya ia telah menceritakan semua ia masalah dengan Dinda walaupun terkadang menjengkelkan tetapi Dinda adalah sahabat yang sangat mengerti dirinya. “Terima kasih ya Din kamu selalu ada saat aku sedih terutama sejak Deva telah meninggalkan aku” Daria mengucapkan kata-kata itu sambil menahan tangisnya. Entah mengapa semenjak Deva pergi meninggalkannya ia sangat mudah untuk menangis padahal sebelumnya menangis adalah musuh terbesar dalam hidupnya tapi kini dalam tangin ia justu mendapatkan ketenangan.”Ya, Ria aku ini kan sahabat kamu jadi sudah semestinya aku bersikap seperti ini dengan kamu. Kamu pantas dapat yang lebih baik dari Deva Ri.” Sahut Dinda mengakhiri perbincangan mereka.
Dua bulan kini telah berlalu melihat kebahagiaan yang terpancar dari wajah Ratu dan Deva sudah tak asing lagi bagi hidupnya ia semakin menenggelamkan dirinya kedalam pekerjaan. Sikap Surya terhadap dirinya pun sudah tak seangkuh dulu mungkin Surya merasa iba terhadap dirinya semenjak pernikahan Ratu dan Deva. “Ria pulang kantor nanti kamu ada acara?” tanya Surya saat kantor terlihat sepi. “Tidak, ada apa?” “Ada yang ingin aku bicarakan dengan kamu tapi tidak dikantor ini” “Ya, ok” sahut Ria dengan ketus.”Nanti, jam 7 malam aku jemput kamu” Surya langsung masuk ke dalam ruangannya.
Menjelang jam 7 perasaan Daria semakin tak menentu kenapa ia harus bingung memilih gaun yang akan dikenakannya hanya untuk bertemu Surya bahkan dulu saat Deva mengajaknya candle light dinner ia tidak segelisah ini.”Non, ada tamu untuk” panggil Bi Inah. “Ya, Bi tolong bilang tunggu sebentar.” Daria mengenakan gaun berwarna merah marun dengan rambut yang dibiarkannya terurai dengan ppolesan make up yang tidak tebal tetapi pas membuat penampilannya sangat menarik malam itu. Tak heran jika Surya gugup seketika untuk mengajaknya pergi ke mobil. Setelah mendapat ijin dari orangtua Daria mereka pergi meninggalkan rumah ke tempat yang membuat Daria meneteskan airmata. “Maksud kamu apa membawa aku ke tempat ini?” ucap Daria diantara isak tangisnya.”Aku ingin mengubah hidup kamu Ria, aku ingin memberitahu rahasia besar yang membuat kamu tenggelam dalam lautan airmata seperti sekarang ini” sahut Surya yang langsung berlari ke dalam mobil dan mengambil secarik kertas berwarna merah hati.
Untuk Daria ku yang selalu ku sayang
Maafkan aku karena telah meninggalkan kamu dan menikah dengan saudara tiri kamu aku melakukan semua ini demi kebaikan kita berdua. Daria awalnya aku juga memiliki perasaan yang kamu rasakan terhadap aku tetapi setelah aku tahu bahwa kamu memiliki penyakit Diabetes aku harus mengubur perasaan aku terhadap kamu karena aku tahu jika aku dan kamu menikah hanya akan menyiksa anak kita berdua. Kamu tahu kan Ria jika seseorang menderita penyakit diabetes menikah dengan penderita diabetes maka semua keturunannya akan menderita penyakit yang sama Daria aku menganggap kamu sudah dewasa dan dapat memahami semua ini. Ada satu hal lagi yang ingin aku ceritakan pada kamu. Puisi Janji Mentari yang aku serahkan kepada kamu satu tahun lalu bukan aku yang membuatnya tetapi Surya, ia orang yang selama ini membuatkan kata-kata motivasi untuk kamu. Maaf aku baru berani berkata jujur sekarang. Terima kasih untuk semuanya.
Deva Adiwijaya
“Kenapa kalian berdua baru mengatakan semua ini, kenapa kamu tidak jujur dengan aku surya, kenapa kalian semua mempermainkan aku seperti ini, kenapa....?” teriak Daria dengan luapan emosi dari hatinya. “Maafkan aku, sejak pertama aku bertemu kamu aku tertarik pada kamu tapi sikap kamu terhadap aku membuat aku sadar bahwa hanya kakak aku yang ada dihati kamu. Aku selalu bersikap angkuh dengan kamu untuk menutupi perasaan aku terhadap kamu. Hanya Janji Mentari yang dapat kusampaikan kepadamu Ria.”
“Janji Mentari, kamu tahu Surya Janji itu sangat berarti untuk aku. Kata –kata sederhana dalam janji itu memberi cahaya dalam kehidupan aku. Tetapi, kenapa kau dan Deva membohongi aku.” “Maafkan aku karena aku telah menyakiti kamu tetapi saat ini aku ingin menepati semua janji mentari itu. Aku akan selalu menyinari hidupmu bahkan saat mendung datang melawanku, aku akan selalu menghangatkanmu walau embun malam membasahi hatimu, aku akan selalu berada disisimu walau bulan dan bintang menenggelamkan diriku, karena kamu adalah cahayaku. Kamu tentu tahu Ria mentari selalu menepati janjinya ia akan terbit dan tenggelam sesuai waktunya. Begitu juga dengan aku Ria ijinkan aku berada disisimu sebagai Janji mentariku.”
“Surya aku hanya mencintai orang yang telah membuat Janji mentari jangan kau tinggalkan aku seperti Deva.” Daria menghapus airmata yang terus mengalir deras dari matanya.”Tidak, akan aku pernah meninggalkan cahaya dalam hidupku Ria berhenti menangis aku tak sanggup melihat air derita itu dari dirimu.” Surya memeluk Daria dan menghapus airmata dari wajah mungil yang ada didepannya.”Ini bukan air derita tapi kini air bahagia.”